Sebelum Semuanya

Per 1 Desember 2012, Multiply akan menutup fasilitas blognya. Dan saya, sebagai orang yang merasa berutang pada Multiply, kelabakan mencari tahu bagaimana memindahkan isi blog lama ke WordPress. Untung bisa menemukan caranya.

Blog “baru” saya, yang akan terus saya update adalah http://www.sanetya.wordpress.com. Ini hanyalah sekelumit cerita si Mandey, sebelum semuanya dimulai.

Terima kasih Multiply, untuk kenangannya.

Syiblupblup Monthly Progress Pt.5


INIGO 5 MOS:

  • Mulai bosan bermain dengan posisi telentang dan telungkup. Maunya duduk walaupun masih miring ke kanan dan kiri.
  • Mulai mengenal bermacam tekstur dengan tangan, lebih pintar menggapai dan menggenggam sesuatu.
  • Suka menjulurkan lidah untuk ‘menangkap’ semua hal yang menyentuh pipi atau mulutnya (kamu ini bayi atau kodok sih, Go?). Termasuk air yang mengalir dari kepala ke mukanya saat mandi.
  • Rasa penasarannya sangat tinggi, semua mau dijelajah dan dilihat tak terkecuali bagian dalam tong sampah.
  • Pertama kali merasakan dipijat. Reaksi: tidak menangis, cenderung menikmati..keturunan siapa, nak?
  • Beberapa kali berhasil mengubah posisi dari telungkup ke telentang tanpa bantuan.

Lost For Words Literally

As much as I like to talk (around 200 words/minute, LOL) I often find myself lost for comforting words. Maybe I’m just not good when it comes to deal with emotions. Just like earlier today, my mom text me, she said that she’s still deeply sad for the lost of my step-dad. I paused for a second before hitting the reply button. What should I write to her? Three billion comforting words will not make my mom’s sadness go away in a jiff but I know, every simple word I type will ease her pain (at least I pray for it) at least for a nano second. So I wrote that I understand her pain and it is okay to be sad because it happened so sudden but I’m sure that my step dad wouldn’t like to see my mom in tears all the time.

Dear mom, I really really REALLY wish I could kiss your pain away. But I can’t. All I know is your a fighter and I’m supporting you to do what you do best: picking up the pieces with your head held up high. I love you.

*also published in my other blog*

Syiblupblup

-Mulai sadar memiliki kaki (sebentar lagi pasti sudah masuk mulutnya)
-Bisa bermain sendiri dengan tenang tanpa harus ditemani
(walaupun tetap harus disupervisi karena sudah mulai lasak)

-Lebih sering ngoceh, ceramah panjang lebih tepatnya
-Lebih mudah dibuat tertawa lebar, kadang sampai cekakakan
-Tidur sudah sangat terjadwal baik siang maupun malam hari

Happy 4 Months, Love!
 

Kenapa? Karena!

Dari percakapan hari ini bersama seorang teman baik setelah berbagi cerita soal Om B:

teman: “Kenapa ya, Man orang baik selalu dipanggil Allah lebih dulu?”
saya:I dunno. Mungkin supaya orang-orang di sekitarnya merasa diingatkan oleh Allah untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Karena pasti kan ketika kejadian, keluarga dan lingkungannya akan terus membahas kebaikan almarhum.”

Perfect timing for me..

Memorable Places

Living in one area for such a long period of time (say, your entire life?) can make several places near your house memorable. For me, there are two places near my house that has so many memories; good and bad. One is Imam Bonjol Mosque inside this housing complex and two is RS Puri Cinere. Why the mosque? Because I got married there and my mom also remarried at the same place. Those are the happy memories, the sad one? That mosque is also the place where we held my late grandfather and Om B’s uhm..memorial before heading to their final resting at Jeruk Purut. Why the hospital? Four months ago surrounded by loved ones I gave birth to Igo there (three of my cousins also born at that hospital) but sadly the place is where grandpa and Om B spent their last moment on earth.

Sepertinya Saya Juga Butuh Pendamping Dalam Hal Itu

Oke, saya tahu waktu untuk memberikan Igo makanan pendamping susu masih dua bulan lagi. Tapi sebagai orang yang (sangat) suka membaca (dan takut hukum trial and error), saya pun mulai mencari informasi seputar makanan pendamping. Kira-kira peralatan apa yang dibutuhkan (sekali lagi, perhatikan kata “butuh” bukan “ingin”) dan ragam menu seperti apa yang cocok diberikan di usia enam bulan. Deg-degan? Pasti! Bukan karena Igo anak pertama jadi pengalaman masih kurang tapi lebih kepada fakta bahwa saya tidak bisa memasak. Haha. Gak bisa ya tinggal buka bungkus mi instan? *hush*

Mulailah saya browsing dan bertanya sana-sini. Ternyata..huuuu…pendapatnya banyak sekali. Tidak ada pakemnya. Aduh puyeng. Tapi semakin banyak informasi yang saya terima, semakin saya tahu langkah apa yang harus dilakukan (dan barang apa saja yang tidak perlu dibeli). Febri, yang selalu menerima laporan pandangan mata dari saya, hanya berpesan..”Mudah-mudahan Igo suka masakan ibunya…..yang cuma itu itu saja pastinya”. Hahahahaha plak! Tidak cuma itu sih, Febri juga mengingatkan, tak perlu terlalu berhati-hati memilih apa yang akan diberikan kepada Igo (asal tidak keluar jalur saja) karena kami tidak ingin Igo tumbuh menjadi produk dari orangtua yang paranoid.

Hmm..sepertinya menjadi orangtua, trial and error akan selalu ada. Mudah-mudahan error-nya tidak terlalu banyak. Huhu.



PS 1: Untung ada hadiah dari teman berupa food processor set dari Pigeon, kabarnya ini diperlukan untuk menyiapkan makanan pendamping. (thank you, Din!)

PS 2: Buat (jutaan) ibu-ibu yang baca *GR amat*, share juga dong pengalaman kasih makanan pendamping buat anak-anaknya. Menu dan peralatan apa saja yang kira-kira perlu.

Learning The Hard Way

Lagi-lagi masalah klasik rumah tangga: soal ART. Baru saja saya diberitahu kalau salah satu ART di rumah akan pulang kampung. Alasannya? Suaminya bertingkah. ART saya ini, sebut saja Mbak T, dulu pernah bekerja di keluarga kami sebagai pengasuh adik yang bungsu. Kerjanya bagus dan punya pribadi yang baik pula. Saya lupa alasan ia berhenti ketika itu. Tapi yang pasti tak lama kemudian, saya tahu dari ART lain kalau Mbak T menikah dan punya satu anak.

Kira-kira dua bulan lalu Mbak T kembali ke Jakarta dan karena di rumah masih butuh tenaga akhirnya ia pun bekerja lagi untuk keluarga kami. Tidak ada yang berubah dari Mbak T, kerjanya tetap rajin. Bedanya, sekarang ia sering membuka album foto berisi foto anaknya. Rupanya ia terpaksa bekerja kembali karena sang suami tidak memiliki penghasilan tetap. Belum lagi kebiasaannya yang suka ngalor ngidul kemana-mana. Selama bekerja, Mbak T rajin menelepon untuk mengecek keadaan anak dan suaminya tapi sayang sang suami tidak mau berbicara dengannya. Alasannya? Ngambek karena ditinggal. WTF? Kalau memang mau istri ada di rumah, cari dong kerja yang benar.

All good things must come to an end. Dua bulan ini pekerjaan di rumah kami selalu beres dan tiba-tiba tadi pagi, salah satu ART melapor. Suami Mbak T bertingkah, ujarnya. Anaknya dititipkan ke mertua (ibu dari Mbak T) dan ia pamit mau bekerja di Kalimantan. Kerja apa ya kira-kira, ternyata sama saja, serabutan tapi pindah pulau. ARGH. Akhirnya Mbak T mau tidak mau harus pulang kampung entah sampai kapan, paling tidak sampai masalah rumah tangganya selesai. Rupanya suami Mbak T ini memang dogol, Mbak T adalah istri yang ketiga (bukan istri ketiga karena poligami). Istri pertamanya ditinggal dalam kondisi hamil dan istri keduanya ditinggal pula setelah anaknya lahir. Mbak T juga salah, kenapa mau dengan laki-laki model seperti itu. Huh.

Saya jadi berpikir, di kampung banyak terjadi kasus seperti yang dialami oleh Mbak T. Oke kalau para lelaki itu meninggalkan istri-istrinya (ini bukan justifikasi ya) tapi anak-anak? Berapa persen wanita di perkampungan Indonesia menikah tanpa wali ayah kandungnya? God, will they ever going to learn?